Teknis Pengendalian Erosi Lahan Secara Vegetatif

Ketergantungan manusia terhadap sumberdaya tanah terus meningkat. Hal ini disebabkan karena terjadinya peningkatan tekanan penduduk terhadap lingkungan tanpa memperhatikan kemampuan lingkungan itu sendiri. Keadaan ini akan mendorong kemerosotan sumberdaya tanah baik mutu maupun jumlahnya. Gejala fisik yang nampak jelas di tempat kejadian (on site) adalah semakin tipisnya lapisan tanah, sehingga kemampuan fungsi tanah sebagai media tumbuh tanaman dan media pengatur daur air menjadi terbatas yang pada akhirnya kemunduran kemampuan lingkungan tidak dapat terhindarkan.

Beberapa fungsi tanah yang dapat dikemukakan yaitu antara lain sumber unsur hara, sumber air, penyedia udara, landasan tumbuh bagi tanaman, tempat hidup bagi hewan dan manusia, tempat dikuburkannya manusia, sebagai bahan urugan perumahan dan jalan, tempat mendirikan bangunan, sanitasi lingkungan (penyaring, penyangga, dan alihrupa), dan bahan pembuat manusia pertama (Adam). Sebagian dari fungsi tanah tersebut yaitu sumber unsur hara, sumber air, penyedia udara, dan landasan tumbuh bagi tanaman lebih berorientasi pada media tumbuh tanaman (pertanian), sehingga di sini pembahasannya ditekankan pada hal-hal tersebut.

Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat terkikis dan terangkut yang kemudian diendapkan pada suatu tempat lain. Pengangkutan atau pemindahan tanah tersebut terjadi oleh media alami yaitu antara lain air atau angin. Erosi oleh angin disebabkan oleh kekuatan angin, sedangkan erosi oleh air ditimbulkan oleh kekuatan air.

Kekuatan perusak air yang mengalir di atas permukaan tanah akan semakin besar dengan semakin panjangnya lereng permukaan tanah. Tumbuhan-tumbuhan yang hidup di atas permukaan tanah dapat memperbaiki kemampuan tanah menyerap air dan memperkecil kekuatan butir-butir perusak hujan yang jatuh, serta daya dispersi dan angkutan aliran air di atas permukaan tanah. Perlakuan atau tindakan-tindakan yang diberikan manusia terhadap tanah dan tumbuh-tumbuhan di atasnya akan menentukan kualitas lahan tersebut.

Berbagai langkah konservasi lahan kritis telah dilakukan pemerintah antara lain dengan reboisasi dan penghijauan. Tetapi keberhasilan program reboisasi baru sekitar 68% sedangkan penghijauan hanya 21%. Hal ini terjadi karena tiga kemungkinan yaitu kurang tepatnya teknologi yang diterapkan, kondisi lahan kurang dipelajari secara cermat dan tidak diterapkannya teknologi secara sepenuhnya.

Paradigma pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi telah memacu pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan sehingga eksploitasi sumberdaya alam semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan manusia. Akibatnya sumberdaya alam semakin langka dan menurun baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Pemanfaatan sumberdaya secara berlebihan telah menyebabkan kondisi tanah menjadi kritis (rusak).

Data pusat penelitian tanah dan agroklimat menyebutkan pada tahun 2005 terdapat lahan kritis yang mencapai luasan 52,5 hektar. Lahan kritis sebagian besar terdapat di hulu DAS yang bentuk wilayahnya berbukit dengan curah hujan sangat tinggi sehingga dalam pemanfaatannya harus berhati-hati karena dengan kondisi seperti itu dapat memicu erosi yang berakibat pada degradasi lahan. Lahan kering umumnya menjadikan air sebagai faktor pembatas yang utama dalam pengelolaannya, oleh karena itu ketersediaan air menjadi sesuatu yang sangat penting dalam pengelolaaan lahan kritis.

Untuk dapat menjamin adanya ketersediaan air baik dimusim penghujan dan musim kemarau diperlukan teknologi yang applicable dan hemat biaya karena pada umumnya petani lahan kering hidup dalam garis kemiskinan. Beberapa penelitian konservasi air dan lahan kritis telah dilakukan dan diujicoba untuk dapat memaksimalkan simpanan air hujan dan mengoptimalkan manfaat sumberdaya air terutama pada musim kemarau.

Dari tulisan ini, maka akan diuraikan tentang tanaman atau sisa tanaman yang baik dalam mengendalikan erosi secara vegetative.

METODE VEGETATIF

Pengendalian erosi secara vegetative adalah usaha mengendalikan erosi dengan menggunakan tanaman termasuk system agroforestri (wanatani), pengaturan pola tanam, strip rumput dan lain-lain. System vegetative mempunyai keunggulan berupa adanya manfaat sampingan seperti kayu bakar, buah dan sumbangan bahan organic dari tanaman pengendali erosi. System ini pada umumnya memerlukan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan sitem sipil teknis.

Metode vegetatif juga disebutkan dalam pendapat lain yaitu sebagai metode konservasi lahan kritis dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman, serta penggunaan pupuk organik dan mulsa. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah, penutupan lahan oleh seresah dan tajuk yang akan mengurangi evaporasi dan dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi. Metode vegetatif juga memiliki manfaat dari segi vegetasi tanaman kehutanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga dapat menambah pendapatan petani.

Aplikasi Metode Vegetatif :

System agroforestry (wanatani)

Wanatani merupakan salah satu bentuk system usaha tani yang menggabungkan tanaman tahunan (kayu-kayuan) dengan jenis komoditi lain. Gabungan itu sebaiknya mempunyai hubungan yang saling menguntungkan antara berbagai jenis tanaman tersebut. Di Indonesia system wanatani telah lama dipraktekkan di antaranya adalah system amarasi di NTT.  Kebun campuran dan pekarangan. Selain itu juga dikenal system pertanian silvipastura yaitu system gabungan antara pohon-pohonan dan hijauan pakan ternak. Beberapa model wanatani adalah sebagai berikut :

  1. Sistem Pertanaman Lorong

Sistem pertanaman lorong adalah suatu sistem dimana tanaman pangan ditanam pada lorong diantara barisan tanaman pagar. Sistem ini sangat bermanfaat dalam mengurangi laju limpasan permukaan dan erosi dan merupakan sumber bahan organik dan hara terutama unsur N untuk tanaman lorong. Teknologi budidaya lorong telah lama dikembangkan dan diperkenalkan sebagai salah satu teknik konservasi lahan kritis untuk pengembangan sistem pertanian berkelanjutan pada lahan kritis/kering di daerah tropika basah namun belum diterapkan secara luas oleh petani.

Pada budidaya lorong konvensional tanaman pertanian ditanam pada lorong-lorong diantara barisan tanaman pagar yang ditanam menurut kontur. Barisan tanaman pagar yang rapat diharapkan dapat menahan aliran permukaan serta erosi yang terjadi pada areal tanaman budidaya, sedangkan akarnya yang dalam dapat menyerap unsur hara dari lapisan tanah yang lebih dalam untuk kemudian dikembalikan ke permukaan melalui pengembalian sisa tanaman hasil pangkasan tanaman pagar.

  1. Pagar hidup

Pagar hidup dibuat mengikuti batas pemilikan lahan dan mempunyai berbagai fungsi seperti mengamankan lahan dari masuknya ternak, sebagai penahan angin, penahan erosi, sumber kayu bakar dan sumber bahan organic/mulsa. Berbagai praktek pemagaran, misalnya cara penumpukan sisa tanaman pada batas pemilikan lahan seperti yang dipraktekkan di NTB (gambar 9.4) dapat dikembangkan menjadi system pagar hidup (gambar 9.5) pagar hidup berfungsi sebagai sumber pakan ternak, bahan mulsa penyubur tanah, melindungi tanaman dari angin kencang dan untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan bila ditanam di lahan yang berlereng curam

Pembuatan dan pemeliharaan :

Tanaman pagar hidup, misalnya gamal (gliricidia) ditanam yang cukup rapat 10-20 cm sepanjang batas pemilikan lahan. Dapat ditanam dengan menggunakan stek atau biji seperti cara menanam tanamman pagar pada system pertanaman lorong. Penggunaan stek yang panjang. Misalnya 1-1,5 m akan lebih baik asalkan bahan stek banyak tersedia

Tinggi tanaman pagar perlu dijaga sekitar 1,5,-2,0 m dengan cara memangkas tanaman pagar secara teratur 1 sampai 2 kali setahun

  1. Strip tanaman alami

Karena curahan tenaga kerj ayang diperlukan untuk penanaman dan pemeliharaan tanaman pagar cukup tinggi, sedangkan manfaat yang nyata system budidaya lorong adalah berupa pengendalian erosi, maka di Mindanao, Filipina, petani menerapkan system strip rumput alami(natural vegetative strip = NVS). Pembuatan system strip rumput alami tidak memerlukan modal dan tambahan tenaga kerja. Dengan membiarkan sebagian kecil lahan sepanjang garis kontur tidak diolah.menyebabkan berbagai jenis semak akan tumbuh dengan rapat sehingga sangat efektif menahan erosi. Dalam beberapa tahun system ini dapat membentuk teras bangku secara bertahap. Pada umumnya tanaman rumput alami merupakan tanaman sementara (transisi) dan strip rumput ke system wanatani dan tanaman alami ini selanjutnya diganti secara bertahap dengan tanaman buah-buahan atau tanaman lain yang permanen dan memberikan hasil.

  1. Kebun campuran (kebun lindung)

Kebun campuran adalah lahan pertanian yang ditumbuhi berbagai macam tanaman yang pada umumnya sengaja ditanam. Tanaman tahunan yang ditanam antara lainpetal. Jengkol, aren, melinjo, buah-buahan dan kayu-kayuan. Ada kalanya sebagian bahan ditanami dengan tanaman pangan semusim. Dengan tajuk yang bertingkat. System ini dapat melindungi tanah sehingga disebut juga dengan kebun lindung.

  1. Silvipastura

System silvipastura adalah perpaduan antara tanaman kayu-kayuan dengan tanaman rumput pakan ternak seperti rumput gjah, setaria, rumput BD. Dan rumput benggkala. System ini dikembangkan apabila ternak menjadi komponen penting dalam usaha pertanian. Tanaman pohon-pohonan selain dapat menciptakan naugan bagi ternak, juga dapat menjadi sumber hijauan pakan ternak (misalnya kayu afrika) terutama di musimkemarau selama produksi rumput menurun gabungan antara tanaman tahunan dengan tanaman rumput-rumput ini dapat mengurangi aliran permukaan dan erosi, mengecah tanah longsor, dan dapat menyediakan hijauan pakan bergizi tinggi

  1. Pertanaman sela

System pertanaman sela yaitu penanaman tanaman pangan semusim di antara tanaman tahunan (kayu-kayuan), buah-buah atau tanaman perkebunan) menjelang tanaman tahunan besar. Tanaman diatur sedemikian rupa sehingga yang satu tidak menekan pertumbuhan yang lainnya. System ini banyak diterapkan pada hutan jeti. Hutan pinus, albazia, karet, lamtoro dan sebagainya. System ini bermanfaat ganda; selin mengintensifkan penggunaan lahan juga mengurangi biaya dan tenaga kerja untuk pemeliharaan tanaman tahunan. Pemupukan dan penyiangan tanaman semusim memberikan dampak pemupukan dan penyiangan terhadap tanaman tahunan.

  1. Tanaman tahunan sebagai pengendali erosi

Tanaman tahunan mempunyai efektivitas pengendalian erosi yang cukup tinggi apabila tanaman tersebut mampu membentuk seresah pada lapisan tanah atau bila tajuknya terbesar sedemikian rupa mulai dari tajuk rendah sampai tajuk tinggi.

Untuk lahan yang ditanami kopi, data penelitian menunjukkan bahwa erosi cukup besar pada dua tahun pertama sejak kopi ditanam. Pada waktu tersebut maka perlakuan konservasi tanah, seperti teras dan penggunaan tanaman pagar, efektif menurunkan erosi. Namun pada tahun ketiga dan seterusnya, sesudah tajuk tanaman kopi berkembang, erosi sudah sangat kecil sehingga perlakuan konservasi tanah tidak lagi memberikan pengaruh yang berarti terhadap penurunan erosi cukup tinggi, namun sesudah kopi makin berkembang, apalagi bila system kopi digabung dengan tanaman lainnya sehingga terbentuk tajuk tanaman yang tingginya bervariasi (multi-strata kopi), maka erosi akan sangat kecil

  1. Strip rumput

Sistem ini hampir sama dengan system pertanaman lorong, namun tanaman pagarnya adalah tanaman rumput pakan ternak, trik dibuat mengikuti kontur dengan lebar strip 0,5 m atau lebih. Semakin lebar strip semakin efektif menanggulangi erosi dans emakin tinggi jaminan ketersediaan pakan ternak. Strip rumput pakan ternak penting bagi petani yang memelihara ternak ruminasia sebagai penyangga kekurangan hijuan pakan pad amusim kemarua. Pada keadaan tertentu apabila ternak semakin penting petani bisa saja memilih untuk menganti tanaman pangan dengan rumput pakan ternak sehingga tegalan berubah menjadi padang rumput.

Penanaman

Bibit rumput ditanam sejajar kontur dan sebaiknya terdiri atas 2 barisan rumput atau lebih tergantung kepada berapa persen lahan akan ditanami rumput, jarak antar barisan 30 cm dan jarak dalam baris 20-30 cm

Jika biji rumput tersedia penanaman dengan biji memerlukan lebih sedikit tenaga kerja dibandingkan dengan penanaman dengan stek.

  1. Tanaman penutup tanah (cover crops)

Tanaman penutup tanah adalah tanaman yang ditanam tersendiri (pada saat lahan tidak ditanami penanaman pokok) atau ditanam bersama-sama dengan tanaman pokok. Fungsi dari tanaman penutup adalah untuk menutupi tanah dari terpaan langsung air hujan, menjaga kesuburan tanah dan menyediakan bahan organik

Berdasarkan tinggi dan jenis tanamannya. Tanaman penutup tanah dapat digolongkan menjadi :

  1. Tanaman penutup tanah rendah seperti centrosema (centrosema pubesces) pueraria (pueraria javanica). Benguk (mucuna sp), dan arachis (arachis pintai), centrosema, peuraria, dan arachis dapat digunakan untuk tanaman penutup tanah pada tanaman tahunan seperti karet, kepala sawit lada dan sebangainya. Tanaman penutup tanah rendah dapat juga digunakan sebagai penutup tanah selama musim kemarau atau selama masa berat.
  2. Tanaman penutup tanah sedang seperti lamtoro (leucaena leucocephala) dadap, (erythrina) dan gamal (glicidia sepium) digunakan juga sebagai naungan pada tanaman kopi, coklat dan lain-lain.
  3. Tanaman penutup tanah tinggi seperti sengon (periaserianthes falcate)

Berdasarkan masa tumbuhnya tanaman penutup tanah dapat dibedakan atas :

  • Tanaman penutup tanah yang ditanam secara simultan (bersama) dengan tanaman utama, contohnya tanaman arachis untuk tanaman lada. Peuraria atau centrosema untuk tanaman karet atau sawit, lamtoro, gamal dan sengon untuk tanaman semusim, kopi dan coklat.
  • Tanaman penutup tanah yang ditanam secara sekuensia (bergantian) dengan tanaman utama. Hampir semua jenis tanaman penutup tanah rendah dapat ditanam pada akhir musim hujan sehingga dapat menutup tanah selama musim kemarau. Pada awal musim hujan tanaman ini dipangkas atau dimatikan dengan

DAFTAR PUSTAKA

Agus.F dan Widianto (2004), Petunjuk Praktis Konservasi Tanah Pertanian Lahan Kering, World Agroforestry Center, ICRAF, Southeast Asia.

Arsyad, S, 1989., Konservasi Tanah dan Air, IPB Press, Bogor, IndonesiaBaconystair.Blogspot.com. Soil Science. Pengenalian Erosi Tanah (2013)

Iinmutmainna.Blogspot.com/makalah/Pengendalian Erosi secara Vegetatif, 2012

Ulfa Damayanti.Blogspot. 2012. Upaya Mengendalikan Erosi Tanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *