Mengenal Tumbuhan Jernang (Daemonorops sp) dan Teknik Budidaya

Jernang (Daemonorps draco (Willd.), merupakan salah satu komoditi produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang telah lama dikenal didalam dunia perdagangan, mempunyai manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan yang tinggi. Kondisi saat ini, potensi produksi jernang di alam semakin menurun dan menjadi langka disebabkan oleh pola produksi yang tidak lestari. Jernang adalah resin yang menempel dan menutupi bagian luar buah rotan penghasil jernang untuk mendapatkannya diperlukan proses ekstraksi buah.

Potensi produksi getah jernang semakin menurun dan langka karena pola produksi yang tidak lestari. Populasi jernang dari tahun ke tahun semakin berkurang, karena tidak berlangsungnya sistem regenarasi alam secara optimal dan pola panen produksi buah dengan cara tradisional yaitu menebang pohon. Saat ini budidaya tanaman Jernang semakin di minati oleh masyarakat khususnya masyarakat Aceh karena potensi ekonomi dari budidaya Jernang sangat tinggi. sekarang harga Jernang mencapai Rp 700.000 – Rp 800.000 per Kg, bahkan tahun 2005 kemarin harga jernang pernah mencapai Rp 1.200.000,-/Kg. Jika pada tahun 2000 harga jernang sekitar Rp 300.000/Kg dan di tahun 2005 mencapai Rp 1.200.000/Kg maka dalam waktu 5 tahun harga jernang naik 4 kalilipat.   Manfaat ekonomis yang di peroleh dari budidaya jernang sangat tinggi.

Mengenal Tanaman Jernang

  • Morfologi Tanaman

Jernang merupakan tanaman berumpun, memanjat sampai 30 m tergantung dari tinggi pohon inang/tempat merambat. Batang jernang berbentuk langsing dan fleksibel, berdiameter 2-3 cm, dipenuhi duri kecil dan tajam.

Jernang mulai berbuah pada umur 2 tahun dan baru menghasilkan getah pada umur 5 tahun, berbuah 2 kali setahun yaitu pada bulan April dan September. Bentuk buah bulat, kecil, berkumpul pada satu tandan.

Jernang menghasilkan resin/getah berbentuk padat, mengkilat, bening atau kusam, rapuh dan mudah meleleh bila dipanaskan, mudah terbakar dan mengeluarkan asap dan bau yang khas.

  • Potensi dan Penyebaran

Tanaman jernang banyak tersebar di Provinsi Aceh khususnya Kabupaten Pidie terdapat di 3 kecamatan yaitu Tangse, Mane, dan Geumpang dan Kabupaten Aceh Jaya serta Kabupaten Aceh Besar.  Pada umumnya masih terdapat di dalam hutan alam, belum banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Untuk saat ini budidaya Jernang sudah mulai digalakkan baik secara pribadi maupun secara berkelompok melalui bantuan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh.

  • Sifat Fisik dan Kimia Getah Jernang

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia SNI) sifatfisika dan kimia getah jernang antara lain:Kadar air 3-6%

  1. Kadar kotoran 14-39%
  2. Kadar abu 8-20%
  3. Titik leleh 80-120%
  • Manfaat
  1. Bahan baku obat-obatan : diare, disentri, sakit gigi, sipilis, berkhasiat aphrodisiac (meningkatkan libido).
  2. Bahan baku pewarna vernis, keramik, porselen, marmar, batu, kayu, rotan, bambu

Teknik Budidaya Jernang

  • Syarat Tumbuh
  1. Ketinggian 150-200 m dpl.
  2. Tanah podsolik merah kuning
  3. Suhu 22-32 OC.
  4. Kelembaban nisbi rata-rata 81%.
  5. Intensitas cahaya matahari sekitar 56%.
  6. Curah hujan 1.450—200 mm/tahun.
  7. Bulan kering dan bulan basah masing-masing 5 bulan.
  • Pemilihan Benih

Benih jernang diambil dari pohon induk dan buah yang matang alami di pohon. Buah yang sudah dipanen disimpan dalam karung, kulit dan daging buah dibersihkan. Untuk merangsang masuknya air ke dalam embrio benih perlu direndam dalam air selama

  • C. Teknih Pembibitan

Bibit merupakan awal penentu keberhasilan tanaman di lapangan. Bibit yang berkualitas dapat survive setelah ditanam dan tumbuh dengan baik. Bibit rotan jernang memiliki persyaratan untuk siap ditanam di lapangan:

(1) Bibit berasal dari biji telah berumur berkisar 1-2 tahun dan mencapai ketinggian minimal 40 cm. Sedangkan bibit berasal dari anakan telah mencapai ketinggian 50 cm;

(2)  Bibit tumbuh normal, batangnya lurus, daunnya subur hijau;

(3)  Bibit tidak terserang oleh  hama dan  penyakit; dan

(4)  Daun terakhir masih berbentuk kuncup atau masih belum terbuka

(1)  Pembibitan Rotan Jernang

a.   Perkecambahan

Buah sebagai benih adalah buah yang masak. Buah tersebut dikupas untuk membuang kulit dan daging buah serta dicuci. Biji yang digunakan sebagai benih adalah biji benar-benar masak dan sehat.  Biji yang baik dicirikan dengan warna coklat tua dan mengkilap serta tidak ada serangan hama/penyakit.  Biji rotan jernang ditutupi cangkang keras sehingga sulit ditembus air.  Untuk membantu proses perkecambahan mata biji dicongkel dan direndam dalam cairan atonik selama 2 hari. Kemudian diletakkan dalam wadah yang kedap yang telah diisi serbuk gergaji yang terdekomposisi dan steril.  Benih mulai berkecambah pada hari ke-12 dengan daya kecambah 48,5%. Bisa juga direndam dengan larutan pertumbuhan lain dengan air kelapa.

b. Penyapihan

Penyapihan dilakukan ± 2,5 bulan setelah benih berkecambah, ditandai dengan    tumbuhnya tunas (panjang ± 5 cm) dan akar (minimal 3 helai akar). Penyapihan dilakukan pada polibag kecil yang berisi media serbuk gergaji yang telah terdekomposis.

c. Pembibitan

Daun rotan mulai mengembang setelah 1 bulan disapih dengan warna awal daun coklat kekuningan, kemudian berubah menjadi hijau setelah 1-2 minggu. Selanjutnya bibit dari polibag kecil dipindahkan ke polibag besar untuk memberikan pertumbuhan yang baik pada bibit.Jenis media yang digunakan adalah serbuk gergaji.Pemeliharaan bibit dilakukan secara teratur yang meliputi: pembersihan gulma, penyemprotan fungisida, pemberantasan hama dan penyakit serta penyiraman. Penyakit yang menyerang bibit rotan jernang adalah bercak daun.  Penyakit ini ditandai dengan adanya warna bintik hitam kecil pada daun, kemudian semakin luas menyebar dan akhirnya daun menjadi kering.Bila tidak segera ditanggulangi, bisa menyebabkan daun rontok dan bibit mati. Upaya pengendalian yang dilakukan meliputi: penyemprotan fungisida Dithane-45 dengan takaran 2 g/10 ml air, memotong daun yang terkena serangan dan mengisolasinya, pengaturan kelembaban karena lingkungan yang terlalu lembab akan berpeluang terkena serangan jamur.

  • Media Pembibitan

Tanah di campur dengan kompos (1 : 2) diberikan pupuk  NPK sebanyak 5 gr

  • Penanaman

Tanaman jernang  membutuhkan pohon inang  yang berperan sebagai tempat merambat tumbuhan jernang.. Jarak tanam  tanaman jernang sangat tergantung pada tegakan pohon inang yang tersedia. Populasi tanaman per hektar berkisar antara 500—800 rumpun.

  • Pemeliharaan

Tanaman perlu dilakukan penyiangan, pendangiran, pemupukan dan pemangkasan serta pengendalian hama dan penyakit.. Untuk menghindari penyakit busuk leher barang dan bercak kecoklatan dilakukan dengan cara menghindari terjadinya genangan air di  sekitar tanaman atau lakukan penyemprotan fungisida  seminggu sekali jika ada gejala serangan.

  • Pemanenan

Jernang berbuah sepanjang tahun,  masa panen yang paling banyak terjadi di bulan September dan  Oktober. Panen perdana pada umur 5—7 tahun. Setiap batang memiliki  5—8 tandan dengan volume buah 10 kg. Pemanenan dilakukan  dengan cara  diunduhkan  dan dikumpul dalam wadah. Buah di panen pada saat buah belum masak penuh dengan ciri  warna  kemerahan atau kira-kira berumur 3 bulan sejak terjadinya penyerbukan.

  • Pengelohan
  1. Cara Basah
  • Buah jernang yang sudah dibersihkan dari kotoran dimasukkan ke dalam  keranjang kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang diisi air.
  • Buah jernang dalam keranjang di tumbuk pelan-pelan.sehingga getah keluar dan mengendap di dasar wadah, lalu air dibuang , getah diambil dan dikeringkan dan siap untuk di jual.
  1. Cara Kering
  • Buah Jernang yang telah dibersihkan dijemur pada sinar matahari selama 3 hari (sampai mengerut) dan ditumbuk agar keluar getahnya.
  • Getah diayak dan disiram air panas sehingga terbentuk adonan dan siap untuk dijual.
  • Daftar Pustaka
  1. Anonymous, 2013 . Budidaya Tanaman Rotan Jernang (Daemonorops sp) , Materi Penyuluhan Kehutanan,  BPSDMK Kementrian Kehutanan, Jakarta.
  2. Effendi. R, dkk, 2010, Kelayakan Usaha Pengembangan Budidaya Rotan Jernang, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.
  3. Anonymous, 2014, Budidaya Tanaman Jernang (Daemonorops sp) , Dinas  Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pidie.

Oleh : Nuraini, S.Hut, MP (Penyuluh Kehutanan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *